Kelong Batti’-batti’ Sebagai Konseling Berbasis Kearifan Lokal di Kabupaten Kepulauan Selayar

Penulis

  • Rahmat Muhajir Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar image/svg+xml Penulis

DOI:

https://doi.org/10.1038/ryvaqd09

Kata Kunci:

Kelong Batti'-batti', Konseling Berbasis Budaya, Kearifan Lokal, Tradisi Lisan, Terapi Musik, Expressive Therapy

Abstrak

Berdasarkan hasil kajian dari sepuluh sumber, Kelong Batti’-Batti’ merupakan salah satu warisan sastra lisan masyarakat Kepulauan Selayar yang berfungsi tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media penyampaian nilai moral, emosional, spiritual, dan sosial. Kajian literatur menunjukkan bahwa kelong memiliki potensi kuat sebagai media konseling berbasis kearifan lokal karena gaya bahasanya yang metaforis, iramanya yang lembut dan repetitif, serta etika komunikasi kapalli’ yang menekankan kelembutan dan tidak menggurui. Kelong mampu membangun suasana emosional yang kondusif untuk refleksi diri, menenangkan batin, dan memperkuat hubungan sosial, sehingga sejalan dengan prinsip-prinsip konseling modern, khususnya dalam pendekatan budaya, konseling naratif, dan expressive arts therapy. Pemanfaatan kelong dalam praktik konseling dapat diterapkan pada konseling individu, kelompok, keluarga, maupun komunitas dengan fungsi sebagai stimulus refleksi, alat mediasi konflik, sarana pendidikan karakter, serta media relaksasi emosional. Meskipun berbagai penelitian menyoroti potensi kearifan lokal dan terapi musik, masih terdapat celah penelitian terkait pemanfaatan spesifik Kelong Batti’-Batti’ sebagai model konseling yang terstruktur. Penelitian ini berupaya mengisi celah tersebut melalui analisis mendalam mengenai nilai, fungsi terapeutik, dan kemungkinan implementasi kelong sebagai intervensi konseling berbasis budaya Selayar.

Unduhan

Data unduhan tidak tersedia.

Referensi

Agung, L., & Perianto, A. (2020). Pengembangan program bimbingan berbasis kearifan lokal. Jakarta: Prenadamedia Group.

Alfi Kamelia Mubarok, et al. (2025). Kearifan lokal dalam praktik konseling modern. Bandung: Pustaka Humaniora.

Andriany, A. (2021). Kelong sebagai ekspresi budaya masyarakat Selayar. Makassar: Universitas Negeri Makassar Press.

Ariska, L. A. (2023). Analisis linguistik dan makna metaforis dalam Kelong Batti’-Batti’. Jurnal Sastra dan Budaya,

Aswar Badulu. (2009). Kapalli’: Etika komunikasi masyarakat Selayar. Makassar: Balai Pustaka Daerah.

Cahyani, R. (2023). Pendekatan terapi ekspresif dan budaya lokal dalam konseling. Jurnal Konseling Nusantara,

Dafirah, et al. (n.d.). Tradisi tutur dan gaya penyampaian kelong di Selayar.

Elsa Juliana, Marwiah, & Iskandar. (2022). Nilai moral dalam Kelong Batti’-Batti’: Analisis konten budaya Selayar. Jurnal Warisan Budaya,

Ifansyah, M., & Saddhono, K. (2017). Kajian etnografi sastra lisan di kepulauan Indonesia. Surakarta: UNS Press.

Indriyani, R., Muflihah, N., & Wibowo, A. (2025). Efektivitas musik tradisional terhadap kecemasan dan kualitas tidur. Jurnal Psikologi Klinis.

Lestari, A., Mahfud, H., & Mulawarman, W. (2020). Konseling berbasis kearifan lokal: Teori dan aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Liebner, G. (1998). Tradisi lisan dan pendidikan karakter di Indonesia timur. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Maharani, P. G., & Nurahman, A. (2021). Terapi musik tradisional Indonesia: Studi empiris dan praktik klinis. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia Press.

Sari Astuti, et al. (2023). Tradisi lisan Selayar sebagai penguat identitas etnis. Jurnal Antropologi Nusantara.

Valencya, R., et al. (2025). Pengembangan model konseling berbasis budaya: Studi eksploratif. Jurnal Konseling Indonesia.

Yasnur. (2022). Kearifan lokal dalam komunikasi budaya masyarakat pesisir. Padang, Andalas University Press.

Yusuf. (2019). Pendidikan karakter dalam tradisi lisan Indonesia. Malang: UB Press.

iohumaniora.

Unduhan

Diterbitkan

2025-12-28

Cara Mengutip

Kelong Batti’-batti’ Sebagai Konseling Berbasis Kearifan Lokal di Kabupaten Kepulauan Selayar. (2025). JURNAL RUANG SOSIALIA (Ruang Ilmiah: Sosial Dan Agama), 1(1), 976-985. https://doi.org/10.1038/ryvaqd09