Resiliensi Psikologis Bissu Bugis Dalam Menghadapi Stigma Sosial
DOI:
https://doi.org/10.1038/nafa3z17Kata Kunci:
Bissu, Resiliensi Psikologis, Stigma Sosial, Konseling BudayaAbstrak
Tradisi bissu sebaagai salah satu identitas gender dalam kosmologi masyarakat Bugis memiliki posisi sosial-spiritual yang unik, namun keberadaannya kerap dihadapkan pada stigma dan diskriminasi sosial di era modern. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk ketahanan psikologis yang dikembangkan oleh para Bissu dalam menghadapi tekanan sosial tersebut. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka, penelitian ini menganalisis berbagai temuan empiris terkait dinamika psikologis, strategi koping, dan dukungan sosial yang mempengaruhi ketahanan mental Bissu. Hasil kajian menunjukkan bahwa resiliensi psikologis Bissu terbentuk melalui integrasi nilai-nilai budaya Bugisseperti siri' na pacce , spiritualitas mappaseng , dan peran ritus sakralyang memberikan makna dan kekuatan identitas. Selain itu, dukungan komunitas adat serta kemampuan mereka dalam melakukan re-interpretasi diri turut memperkuat daya lenting dalam menghadapi stigma. Penelitian ini menegaskan bahwa pemahaman terhadap resiliensi Bissu tidak hanya penting bagi pelestarian budaya, tetapi juga memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu konseling, khususnya dalam konteks keberagaman gender dan budaya.
Unduhan
Referensi
Bone, M. (2024). Tergerusnya Bissu Sebagai Tokoh Spiritual dalam. 7, 9230–9235.
Bungin, B. (2017). Penelitian kualitatif: Komunikasi, ekonomi, kebijakan publik, dan ilmu sosial lainnya.
Giswandhani, M., Saleh, R., Hilmi, A. Z., & Pangkajene, K. (2025). PUDARNYA PERAN BISSU SEBAGAI PEMIMPIN RITUAL UPACARA PERTANIAN TRADISIONAL : ANALISIS KOMUNIKASI BUDAYA DALAM. Aiccon, 505–512.
Indonesia, U. P., Indonesia, U. P., Indonesia, U. P., Indonesia, U. P., & Author, C. (2025). Protection Bissu right in the Bugis Arajang ritual. 22, 476–486.
Indra, A. B., Darussalam, F. I., Karman, A., & Aulia, S. (2024). The Existence of Bissu in Bugis Culture in the Contemporary Era. 9(1), 79–90.
Ismoyo, P. J. (2020). Paradigma : Jurnal Kajian Budaya Decolonizing Gender Identities in Indonesia : A Study of Bissu ‘ The Trans-Religious Leader ’ in Bugis People. 10(3). https://doi.org/10.17510/paradigma.v10i3.404
Moleong, L. J. (2017). METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF.
Pangkep, K. (2021). HASANUDDIN JOURNAL OF SOCIOLOGY (hjs). 3(1).
Regency, S., & Regency, W. (2024). I La Galigo .
Religion, I., Rituals, T., Puritanism, R., Leluhur, A., Tradisional, R., & Agama, P. (2021). Bissu on Contesting Indigeneity with Islamic Puritanism in the Sacred Arena. 22(1), 127–138.
Riduwan. (2015). Metode dan teknik penyusunan skripsi.
Suliyati, T. (2018). Bissu : Keistimewaan Gender dalam Tradisi Bugis. 2(1), 52–61.
Syam, S., & Tang, M. (2021). Symbolic Meaning of Sere Bissu in Matompang Arajang Ceremony for Bugis Bone Community , South Sulawesi. 2.
Triadi, F., & Ismoyo, J. (2022). Sulapa Eppa : Bissu , Kosmologi Bugis , dan Politik Ekologi Queer Sulapa Eppa : Bissu , Bugis Cosmology , and Queer Political Ecology. 27(3), 215–225.
Wayan, N., & Rahayu, S. (2021). DALAM KEBERTAHANAN TRADISI DI KECAMATAN SEGERI ( THE EXISTENCE OF PRIESTS BUGIS ( BISSU ) IN MAINTAINING TRADITION IN SEGERI DISTRICT ) Daerah Sulawesi Selatan atau. 12, 166–176.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 JURNAL RUANG SOSIALIA (Ruang Ilmiah: Sosial dan Agama)

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.






